| Jum'at 18 Mei 2012 M |
PENGADUAN
Jajak Pendapat
Pengunjung Online
Kami punya 80 tamu onlineJumlah Pengunjung








![]() | Hari Ini | 177 |
![]() | Kemarin | 231 |
![]() | Minggu Ini | 2417 |
![]() | Minggu Lalu | 3749 |
![]() | Bulan Ini | 9426 |
![]() | Bulan Lalu | 15393 |
![]() | Total | 398084 |
IP Anda: 38.107.179.209
,
Hari ini: Jumat, 18 Mei 2012
Berita Badilag
Berita Umum
| Ketua PTA Semarang Kultum di Pengadilan Tinggi Jateng |
|
|
| Dimuat oleh Mohammad Roy Irawan |
| Jumat, 15 April 2011 10:00 wib |
HADITS ORANG PENSIUN
KPTA Semarang, Drs. H. Chatib Rasyid, SH, MH, didampingi oleh KPT Jawa TengahSemarang׀ pta-semarang.go.id (15/4/2011) Drs. H. Chatib Rasyid, SH.MH., Ketua Pengadilan Tinggi Agama Semarang, menyampaikan bahwa usaha orang yang meninggal itu layaknya orang yang pensiun, menerima buahnya dari apa yang ditanamnya selagi dia aktif (hidup). Maka hadits yang terkenal riwayat Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad dapat diartikan sebagai hadits orang pensiun, yang berbunyi:
عَنْ أبِى هُرَيْرَة (ر) أنَّ رَسُول الله .صَ. قَالَ: إذا مات ابن آدم انقطع عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ :صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَووَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ (رواه ابو داود)
Secara berkelakar Chatib Rasyid menyatakan bahwa “mati” itu merupakan penyakit keturunan, kalau seseorang mempunyai bapak pernah meninggal maka suatu saat kelak anaknya juga pasti meninggal. “Mati” juga merupakan penyakit menular karena bila seseorang pernah melihat jenazah, maka suatu saat dia pasti juga akan menjadi jenazah juga. Hal tersebut disampaikan Chatib Rasyid dalam kesempatan memberikan kultum seusai acara mendoakan (pembacaan tahlil dan yasin) kedua orang tua Bp. Sareh Wiyono, Ketua PT Jawa Tengah. Kegiatan yang diagendakan setiap malam Jum’at Kliwon dan Pon ini diselenggarakan di masjid Al Jimahela, masjid yang didirikan di halaman Pengadilan Tinggi Jawa Tengah diikuti oleh semua pejabat struktural, pejabat fungsional dan semua pegawai dan honorer PT Jateng.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa ketika seseorang meninggal, seluruh hak-haknya, seluruh amalnya sudah putus kecuali yang tiga tersebut di atas. Disebut sodakoh jariyyah, bukan amal jariyyah, sebab si mayyit sudah tidak bisa beramal lagi. Yang mengalir itu amal dan kerjaan dia sewaktu hidup. Baginda Rasul pernah menasehati, “Andai kita tahu besok hari akan kiamat, sedang hari ini masih ada kesempatan untuk menanam kurma, maka lakukan saja”. Sebab apa yang kita tanam walau kita tidak menikmati hasil tanam kita, pahala orang yang memakan korma itu akan selu mengalir pada kita yang menanamnya. Kedua, kita jangan pelit-pelit dalam mengajarkan ilmu kepada yang membutuhkannya, misalnya: para ibu jangan pelit-pelit dalam memberikan resep kue atau makanannya kepada ibu yang lainnya. Karena ilmu tersebut pasti akan memberikan manfaat baik saat kita hidup maupun kelak bila kita meninggal dunia. Bila ilmu itu disampaikan kepada sepuluh orang saja, dan nantinya sepuluh orang itu akan mengajarkan pada yang lainnya maka akan berlipat ganda pahala yang mengalir pada yang mengajarkan ilmu yang bermanfaat itu. Yang ketiga, anak sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya , walaupun “mendoakan” ini ada kontroversi dimana ada yang memahami bahwa mendoakan itu termasuk juga menyampaikan pahala, ada pula yang mengartikan bahwa pahala itu tidak berpindah, yang sampai kepada kedua orang tua kita, kepada orang yang kita doakan, adalah doa kita. Kita dalam usaha mendoakan orang lain itu juga berpahala karena mempunyai andil kepada orang lain agar diampuni segala dosanya. Menutup kultumnya Chatib Rasyid turut mendoakan kedua orang tua Bp. Sareh Wiyono, yaitu Bp. H. Jiman dan Ibu Hj. Mahela, semog arwah beliau diampuni Allah dari segala dosa-dosanya, dijauhkan dari api neraka dan mendapatkan surga yang kekal di sisi Allah Swt. Dan setiap yang hadir malam itu yang telah melantunkan doa-doanya dikabulkan doanya dan mendapatkan pahala dari amalnya tersebut, Amin. (f&n). عَنْ أبِى هُرَيْرَة (ر) أنَّ رَسُول الله .صَ. قَالَ: إذا مات ابن آدم انقطع عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ :صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَووَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ (رواه ابو داود) |
| Terakhir Diperbaharui pada Jumat, 15 April 2011 11:53 wib |








