Anda berada di sini: Beranda Berita Umum Pengajian Selasa Siang I
Jum'at
18 Mei 2012 M

Menu Unduhan

Jajak Pendapat

Layanan informasi apakah yang paling anda butuhkan dari situs web kami?
 

Pengunjung Online

Kami punya 57 tamu online

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini186
mod_vvisit_counterKemarin231
mod_vvisit_counterMinggu Ini2426
mod_vvisit_counterMinggu Lalu3749
mod_vvisit_counterBulan Ini9435
mod_vvisit_counterBulan Lalu15393
mod_vvisit_counterTotal398093

Online (20 menit lalu): 9
IP Anda: 38.107.179.206
,
Hari ini: Jumat, 18 Mei 2012

Berita Umum

Pengajian Selasa Siang I Cetak Surel
Dimuat oleh eko   
Selasa, 22 Februari 2011 15:37 wib

“ … MENGELUH…, ITU MEMANG ASLINYA MANUSIA …”

 

musola1

 

Semarang׀ pta-semarang.go.id (22/2/2011)

Drs. H. Chatib Rasyid, SH. MH., Ketua PTA Semarang membuka tausiahnya dalam pengajian Selasa siang setelah sholat berjamaah Dhuhur. dengan membaca Al Qur’an surat Al Ma’arij (Tempat-Tempat Naik) ayat 19 sampai dengan 26, yaitu:

arabmusola

Artinya: Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan. QS. 70 : 19-26.

Chatib Rasyid berdasarkan ayat-ayat di atas menyadarkan kembali para jamaah sholat Dhuhur yang terdiri dari para Hakim Tinggi, Pejabat Struktural dan Fungsional serta para Staf PTA Semarang bahwa manusia diciptakan dalam keadaan keluh kesah, dalam arti kata manusia tidak pernah puas, ketika diberi nasib yang agak baik dia tidak pernah bersyukur, ketika diberi nasib jelek dia mengeluh. “Jadi kalau ada kawan-kawan kita yang sukanya mengeluh…. Itu memang aslinya manusia, supaya tidak kelihatan aslinya, biar cantik (red: akhlaknya) maka ia pake baju,” demikan dikemukakan Chatib Rasyid.

Agar tidak nampak aslinya yang tidak baik itu maka dipakailah baju sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat selanjutnya, bajunya yaitu:

  1. Sholat
  2. Menginfaqkan sebagian harta kepada yang berhak menerimanya baik diminta maupun tidak diminta
  3. Meyakini hari akhir.

 

musola2

 

Dengan dipakainya baju sholat dimana-mana, tidak hanya pada saat sholat di musholla, maka akan timbul rasa syukur dan sabar, serta seseorang pasti akan menjadi baik, hal ini sudah merupakan standar yang sudah dijamin oleh Allah dalam Al Qur’an, yaitu bahwa sholat akan mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar.

Baju yang kedua, yaitu menginfaqkan sebagin harta, sebenarnya merupakan fitrah manusia juga, bahwa dalam harta yang dimiliki seseorang tidak semuanya menjadi miliknya, ada hak orang lain disana. Seperti halnya saat kita mengkonsumsi buah durian, dan itu sudah menjadi hak kita, tetapi harus ada yang kita buang, yaitu: kulitnya dan bijinya tidak kita makan. Hal ini sudah merupakan fitrah manusia, dengan memakan semua berarti memakan bersama dengan kotoran-kotorannya.

 

musola3

 

Baju yang ketiga, yaitu meyakini hari akhir, manusia akan senantiasa menyadari bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hari setelah kiamat nanti.Jadi dengan mengenakan ketiga baju ini maka manusia akan terhindar dari sifat yang suka berkeluh kesah dan kikir.

Tausiyah Chatib Rasyid ini mengawali dimulainya kembali pengajian rutin setiap Selasa di musholla Tajul ‘Arifin PTA Semarang setelah beberapa waktu yang lalu vakum. Jadwal sudah ditetapkan untuk tahun 2011 ini. Dengan adanya pengajian ini diharapkan bisa lebih meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita. Amin. (f&n)

Terakhir Diperbaharui pada Selasa, 22 Februari 2011 15:51 wib