|
Pengajian Ramadhan Ba’da Dhuhur
“MUHASABAH MENUJU TAZKIYATUN NAFS”

Semarang׀ pta-semarang.go.id (9/8/2011)
Drs. H. Wiyoto, SH., Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Agama Semarang, pada siang hari ke-9 bulan Ramadhan ini mendapat giliran memberikan tausiyahnya di depan para jamaah sholat Dhuhur musholla Tajul ‘Arifin Pengadilan Tinggi Agama Semarang. Nampak diantara jamaah: Ketua Pengadlan Tingi Agama Semarang, Drs. H. Chatib Rasyid, SH.MH., para Hakim Tinggi, Pejabat Struktural dan fungsional, pegawai serta para honorer di lingkungan PTA Semarang.
Diawali dengan membaca surat ke 91 dari Al Qur’an, yakni Q.S. Asy Syams yang terdiri dari 15 ayat, yang isinya antara lain bahwa Allah menunjukkan siapa di antara manusia yang beruntung yaitu orang yang menyucikan jiwanya dan yang merugi adalah orang yang mengotori jiwanya.

Sebelum memberitahukan hal tersebut Allah bersumpah sebanyak 7 (tujuh) kali sumpah, yaitu: demi matahari dan cahayanya, bulan, siang, malam, langit, bumi dan jiwa. Hal ini menyiratkan betapa sangat pentingnya seseorang dalam menjaga jiwanya.
Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula. Dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati ” (HR. Bukhari dan Muslim). Hati adalah raja. Dan seluruh tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik maka baik pula pasukannya. Jika rajanya buruk, buruk pula pasukannya.
Dalam rangka menjaga hati menyucikan jiwa ini Allah telah banyak memberikan petunjukNya dalam Al Qur’an, antara lain:
- Q.S. Al An-Aam: 142, yang artinya: “Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.” - Q.S. Al-Baqarah: 188, yang artinya : "Dan janganlah kamu makan harta antara kamu dengan cara yang bathil. Dan jangan kamu suapkan harta itu kepada pembesar negeri (pejabat), supaya dengan jalan itu (kamu) dapat mengambil harta orang lain dengan cara dosa. Padahal kamu mengetahui akibatnya". - Q.S. Al-Israa': 32, yang artinya: “Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” Dan masih banyak lagi petunjuk Allah yang lain yang intinya untuk menjaga kebersihan jiwa (tazkiyatun nafs).
Terdapat pula cerita-cerita kehidupan Nabi dan para sahabatnya yang mencerminkan bagaimana dalam menjaga kebersihan jiwa ini:
- Cerita tentang Rosul dan kurma, dimana disaat pulang dari menunaikan sholat shubuh Nabi menjumpai sepiring kurma di meja rumahnya. Dengan keyakinan bahwa itu adalah kurma yang dipesan tadi malam oleh Beliau kepada Fatimah untuk membelikannya, maka dimakanlah beberapa kurma tersebut. Tapi ternyata kemudian datanglah Fatimah dengan membawa kurma pesanan Nabi. Maka gundah gulana dan gelisahlah hati Nabi demi menyadari bahwa yang dimakan beliau bukanlah kurma yang dipesannya. Lalu kurma milik siapa? Berarti beliau telah memakan kurma yang bukan haknya? Ternyata kurma tersebut adalah dari salah seorang sahabat yang bernadzar bahwa bila kebun kurmanya panen maka panenan pertama akan dipersembahkan untuk Nabi. Dan karena tidak ada penghuni rumahnya maka kurma itu diletakkan saja di meja. Maka legalah hati Nabi karena tidak ada harta yang tidak halal yang masuk ke dalam perut beliau. - Sahabat Umar bin Khattab dalam rangka mengaplikasikan “tazkiyatun nafs “ dengan cara membagi dengan tegas kapan saat untuk dinas mengabdi pada negara dan kapan saat yang digunakan untuk keluarga. - Imam Nawawi dalam mengaplikasikan “tazkiyatun Nafs” dengan tidak mau memakan hasil panen dari Kuffah, karena meskipun secara lahiriah hasil panen dari Kuffah itu halal tetapi tidak tahu apakah halal seluruhnya, karena tanah yang berada di Kuffah ada yang diwakafkan tapi diambil dan diminta lagi oleh keturunan / cucu-cucunya. Imam Nawawi takut ada hasil panen dari tanah tersebut.
Berkaca pada contah-contoh yang diberikan oleh Nabi dan para sahabatnya kita dalam menjaga kebersihan jiwa ini harus bermuhasabah. Bila memang ternyata masih kotor jiwa kita maka mari segera bertobat serta mengharap tuntunan Allah ke jalan yang lurus. Juga kita nasehatkan kepada diri kita: - tanamkan perasaan selalu dilihat dan diawasi Allah
 - menyadari bahwa di kanan kiri kita terdapt malaikat Roqib dan Atid yang senantiasa mencatat semua amal kita, baik itu amal kebaikan maupun amal keburukan. - menyadari bahwa kita bakal mati dengan tidak membawa apa-apa. - menyadari bahwa di hari akhir nanti ada surga dan neraka. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang yang mensucikan jiwa (مَن زَكَّاهَا ) dan bukan sebagai orang yang mengotorinya (مَن دَسَّاهَا ). Amin.
|